Makam Habib Abdurrahman AlHabsyi

Karamah Habib Abdurrahman Alhabsyi: Kisah Ekskavator Takluk di Makam Cikini

Kilas Balik Karamah Habib Abdurrahman Alhabsyi: Ketika Ekskavator Takluk di Cikini

Di tengah hiruk pikuk pembangunan kota besar seperti Jakarta, ruang untuk sejarah dan spiritualitas seringkali terancam. Makam para aulia, yang seharusnya menjadi pengingat kebesaran Allah dan jejak dakwah Islam, terkadang dipandang sebagai penghalang modernisasi. Bayangkan sebuah makam waliyullah yang telah berusia lebih dari seabad, hendak dipindahkan paksa demi proyek apartemen mewah. Bagaimana mungkin kekuatan material bisa berhadapan dengan kemuliaan seorang kekasih Allah? Peristiwa ini bukan sekadar isapan jempol, tetapi pernah terjadi di jantung kota Jakarta pada tahun 2010.

Kisah makam Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Alhabsyi di Cikini menjadi bukti nyata bahwa kemuliaan para wali Allah senantiasa terjaga dengan cara-Nya yang agung. Mari kita telusuri kembali kilas balik peristiwa menakjubkan ini dan memetik hikmah mendalam di baliknya, sesuai dengan pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah.

Mengenal Sosok Al-Habib Abdurrahman Alhabsyi

Sebelum menyelami kisahnya, penting bagi kita untuk mengenal siapa sosok mulia ini. Beliau adalah Al-Wali Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Alhabsyi, seorang ulama besar yang menjadi salah satu paku bumi Jakarta pada masanya. Kemuliaan nasab dan ilmunya tidak diragukan lagi. Beliau merupakan ayah dari seorang waliyullah yang namanya lebih masyhur di kemudian hari, yakni Al-Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi, atau yang lebih dikenal sebagai Habib Ali Kwitang, pendiri Majelis Taklim Kwitang yang legendaris.

See also  Kisah Sahabat Nabi Menggunakan Al-Fatihah Sebagai Ruqyah Penyembuh

Habib Abdurrahman Alhabsyi wafat pada tahun 1879 Masehi dan dimakamkan di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Selama puluhan tahun, makam beliau menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat yang ingin mengenang jasa dan mencari keberkahan dari jejak para shalihin.

Kilas Balik Peristiwa Penggusuran Tahun 2010

Pada bulan Juli 2010, sebuah perusahaan pengembang berencana membangun sebuah kompleks apartemen di atas lahan seluas 1,6 hektar. Sayangnya, di tengah lahan tersebut, bersemayam jasad mulia Habib Abdurrahman Alhabsyi. Pihak pengembang berniat untuk memindahkan makam tersebut agar tidak menghalangi proyek pembangunan.

Menurut kisah yang beredar luas di kalangan masyarakat, proses pemindahan pun dimulai. Rencananya, makam akan diangkat secara utuh bersama dengan tanah di sekelilingnya. Sebuah alat berat berupa ekskavator dengan kapasitas angkut mencapai 80 ton didatangkan untuk melaksanakan tugas tersebut.

Namun, di sinilah keajaiban dengan izin Allah terjadi. Ketika ekskavator mulai mencoba mengeruk dan mengangkat tanah di sekitar makam, alat raksasa itu sama sekali tidak berdaya. Berkali-kali dicoba, mesin meraung-raung, tetapi tanah tempat sang wali bersemayam tetap kokoh tak bergeming. Bahkan, menurut beberapa riwayat, bagian ember (bucket) ekskavator sampai mengalami kerusakan dalam upaya tersebut. Peristiwa aneh ini terjadi berulang kali, membuat para pekerja dan pihak pengembang kebingungan.

Setelah berbagai upaya yang sia-sia, pihak pengembang akhirnya menyerah. Mereka menyadari bahwa ada kekuatan tak kasat mata yang melindungi makam tersebut. Akhirnya, desain pembangunan apartemen pun diubah. Pihak pengembang memutuskan untuk tetap membangun apartemen di sekeliling makam, dengan menyisakan dan menata area khusus untuk makam Habib Abdurrahman Alhabsyi. Makam itu pun tetap berada di lokasi aslinya, menjadi oase spiritual di tengah hutan beton Jakarta.

See also  Belajar Baca Tulis Quran, Membangun Pendidikan Karakter Unggul Ala Santri Kekinian Tanpa Mondok Pesantren!

Hikmah di Balik Peristiwa: Memahami Karamah Auliya

Kisah ini merupakan salah satu contoh nyata dari apa yang dalam akidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah/Maturidiyah) disebut sebagai karamah. Karamah adalah kejadian luar biasa yang Allah anugerahkan kepada para wali-Nya (auliya’), yakni hamba-hamba-Nya yang saleh dan dekat dengan-Nya. Berbeda dengan mukjizat yang khusus diberikan kepada para Nabi dan Rasul sebagai bukti kenabian, karamah berfungsi sebagai pemuliaan dari Allah kepada wali-Nya.

Dalam kacamata tasawuf Imam Al-Ghazali, seorang wali adalah ia yang hatinya senantiasa sibuk dengan Allah. Kecintaan dan ketaatannya yang total membuat Allah pun mencintainya dan menjaganya, baik semasa hidup maupun setelah wafat. Peristiwa gagalnya penggusuran makam Habib Abdurrahman Alhabsyi adalah cerminan dari penjagaan Allah terhadap kekasih-Nya.

Peristiwa ini juga menguatkan amaliah ziarah kubur yang telah menjadi tradisi kaum Nahdliyin. Ziarah ke makam para aulia bukan untuk menyembah kubur, melainkan untuk:

  • Mengingat kematian dan akhirat.
  • Mendoakan ahli kubur agar senantiasa mendapat rahmat Allah.
  • Mengenang perjuangan dan meneladani kesalehan mereka.
  • Bertabarruk (mencari berkah) dengan meyakini bahwa Allah menurunkan rahmat dan keberkahan-Nya di tempat-tempat yang terkait dengan para kekasih-Nya.

Keberkahan yang Terus Mengalir

Keajaiban tidak berhenti sampai di situ. Dikisahkan pula sebuah cerita menakjubkan yang menyertai peristiwa ini. Salah seorang pimpinan perusahaan pengembang tersebut, yang bukan seorang Muslim, menderita sakit parah yang telah lama dideritanya. Ia telah berobat ke berbagai negara, namun tak kunjung sembuh.

Setelah menyaksikan sendiri kejadian luar biasa di makam Cikini, ia mendapat saran untuk mencoba menggunakan air dari sumber di dekat makam Habib Abdurrahman Alhabsyi. Dengan penuh harap, ia pun mencoba mandi dan meminum air tersebut. Atas izin Allah SWT, penyakit yang dideritanya berangsur-angsur pulih hingga sembuh total.

See also  Biografi Habib Abubakar Al-Adni: Cendekiawan Hadramaut Penggagas Fiqih Tahawwulat

Sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan, dikabarkan bahwa tokoh inilah yang kemudian membiayai seluruh renovasi makam. Makam tersebut dibangun dengan sangat indah, dilapisi marmer berkualitas tinggi. Perbuatannya menjadi bukti bahwa keberkahan para wali Allah dapat dirasakan oleh siapa saja, tanpa memandang latar belakang, sebagai wujud rahmat Allah yang Maha Luas.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Siapakah Al-Habib Abdurrahman Alhabsyi?

Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Alhabsyi adalah seorang ulama besar dan waliyullah yang hidup di Jakarta. Beliau merupakan ayah dari Waliyullah Quthub Al-Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi (Habib Ali Kwitang). Beliau wafat pada tahun 1879 M dan makamnya yang penuh karamah terletak di Cikini, Jakarta Pusat.

2. Apakah boleh mengambil air dari makam wali untuk berobat?

Dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama’ah, praktik ini disebut tabarruk (mencari berkah). Umat Islam meyakini bahwa penyembuh hakiki adalah Allah SWT semata. Namun, diyakini pula bahwa Allah seringkali meletakkan keberkahan pada tempat-tempat atau benda-benda yang terkait dengan hamba-Nya yang saleh. Menggunakan air dari dekat makam wali adalah bentuk ikhtiar dengan wasilah (perantara), seraya memohon kepada Allah agar memberikan kesembuhan melalui keberkahan yang ada pada tempat tersebut. Praktik ini dibolehkan selama tidak meyakini bahwa air atau makam itu sendiri yang menyembuhkan.

Leave a reply

Enable Notifications OK No thanks